“Ah, kamu jahat, San. Aku kan terus kepikiran kamu. Kamu tau, aku cemas ma kamu. Kamu tiba-tiba berubah jadi orang yang kaya baru kenal aja ma aku. Cuek banget. Jahat!”
“Maafin aku, Ren. Sebenernya alasan kenapa aku tiba-tiba jadi jarang ada waktu buat kamu dan berbagai perubahanku yang lain tu karena aku kerja 1bulan ini, Ren.”, ujarnya lembut.
Yah, aku tau Sandy pasti merasa bersalah, terlihat dari raut wajahnya yang sedikit memelas. Hmm. Manis sekali. Baru pertama ekspresi wajah ini ditunjukkan oleh Sandy. Aku tersenyum geli melihat ekspresi wajahnya. Dan seketika itu juga aku tersadar dari pemikiran sesaat itu.
“Kerja?”, aku memasang tampang bego, “Maksud kamu? Jadi kamu 1bulan ini kerja jadi gak bisa terus pergi ma aku karena sibuk kerja?”, aku sudah mulai sedikit tenang karena ternyata alasan Sandy menghilang bukan seperti apa yang aku pikirkan. Sungguh berbeda. Ya, jauh berbeda.
“Yap, aku kerja! Hehe. Tapi hanya 1bulan ini aja karena aku mau buatin kamu kejutan dengan kerja kerasku sendiri.”, ujarnya tersenyum sambil membelai rambutku. Ah, wajahku serasa panas. Sudah lama tak kurasakan kehangatan tangan ini.
Seolah Sandy tak memiliki beban. Padahal aku tau dari penampilannya kalau Sandy baru pulang dari kerja. Mungkin kerja yang terakhir. Pasti Sandy lelah sekali bekerja dari pagi dan belum sempat istirahat lagi. Tapi dari wajahnya terlihat senyuman yang sungguh mendamaikan hati. Aku tau, Sandy pun sangat bahagia bisa memberikan sesuatu dengan kerja kerasnya sendiri. Ya, senyuman Sandy memperlihatkan kepuasan yang mungkin aku sendiri tak mengerti harus melukiskan dengan kata apa. Tapi yang pasti kebahagiaan itu terpancar dari senyumnya.
“Memang kamu kerja jadi apa, San?”
“Hmm? Aku malu, Ren buat cerita. Gak usah ya?”
“Kenapa malu, San? Cerita dong!”
“Yakin gak apa-apa, Ren? Ntar kamu juga ikut malu gimana? Hehe.”
“Gak apa kok, San. Aku gak akan malu. I promise.”
“Oke. Pagi tadi aku part time jadi kasir di Mcd, lalu siang jadi pengantar makanan deliveri di restoran masakan Italy yang baru buka itu, kebetulan mereka butuh karyawan tambahan, jadi ya coba-coba deh nglamar disana. Yah, tapi untung sorenya sedikit enak karena ngejob maen music di mall. Pas ada event. Hehe.”, ujarnya polos. Padahal aku tau sekali Sandy sangat lelah karena rentetan pekerjaan itu.
Tak perlu waktu berpikir apa yang harus kulakukan sekarang. Aku langsung memeluknya. Air mataku udah mengalir di sudut jalan itu hanya disaksikan oleh Sandy dan para bintang yang menjadi saksi.
“Makasih, San. Aku bahagia banget hari ini. Ini hari yang gak akan pernah aku lupain. Makasih, San.”, kataku sambil terisak.
“Seiren?”, Sandy melepaskan pelukannya, “Kok malah nangis, Ren? Hehe. Gimana kalau minggu depan kita makan di cafe yang baru buka itu? Yah, hari ini biarkan kita menikmati indahnya malam hanya ada kamu dan aku.”
Aku tersenyum, “Ya.”
***
Aku asik mengobrol dengan Sandy beberapa lama hingga tiba-tiba Sandy menghentikan obrolan itu dengan 1 kalimat.
“Ren, aku mau ngomong.”
“Hmm? Kenapa, San? Jangan bilang kamu mau pulang, San. Aku kangen!”, raut wajahku sudah sedikit kecewa.
“Ren, maaf ya. 1 bulan ini aku gak peduliin kamu, tapi untung aku dapat kabar dari Lina terus. Yah, sejujurnya aku pun cemas, Ren. Tapi aku harus sabar. Aku pun rindu ma kamu. Ya, sangat merindukanmu. Yah, aku bukan orang yang romantis yang bisa buat kamu melayang karena segala sesuatu yang aku ucapkan dan yang aku lakukan untuk kamu. Tapi aku sayang kamu, Ren.”
“…”
“Ren, kok diem? Kamu marah? Maaf ya?”, Sandy sudah mulai gugup dan takut karena tingkahku yang tak biasanya.
Belum sempat aku ingin berbicara, Sandy melihat jam handphone nya dan entah melakukan apa.
Samar-samar terdengar alunan music.
“Ren, dengerin deh!”
And here it goes,
I’m dreaming tonight of a place I love
Even more than I usually do
And although I know it’s a long road back
I promise you
I’ll be home for Christmas
You can count on me
Please have snow and mistletoe
And presents by the tree
Christmas eve will find you
Where the love light gleams
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams
I’ll be home for Christmas
You can count on me
Please have some snow and mistletoe
And presents by the tree
Christmas eve will find me
Where the love light gleams
I’ll be home for Christmas
If only in my dreams
If only in my dreams
Song by Michael Buble ini terdengar dari handphone Sandy. Setelah selesai, suasana kembali hening. Tak lama Sandy memelukku.
“Ren, kamu denger lagu tadi kan? Itu lagu yang kamu suka. Dan kamu hafal teksnya karena kamu sering nyanyiin ni lagu. Ini janjiku, Ren. Dan sekarang ini tepat saat natal, Ren. And it’s me here beside you. And that’s my promise. Merry Christmas, honey.”
Tepat pukul 00.00 am. Cara pengucapan, gerak tubuhnya, kata-katanya yang manis sungguh membuat jantungku berdegup kencang. Oh, how sweet that is. Aku ingin waktu berhenti berputar hingga aku puas menikmati cinta ini, moment ini dan pelukan ini. Entah apa yang harus kuucapkan saat ini. Aku tak memiliki kamus bahasa yang romantis seperti Sandy. Aku cuma bisa terharu saat ini hingga air mataku mengalir. Air mata bahagiaku karena seseorang yang aku cintai.
“San, makasih. Aku sayang kamu. Aku sayang banget ma kamu, San.”, aku hanya bisa mengucapkan kata ini di tengah isak tangis bahagiaku.
“Ren, aku juga sayang kamu. Bener-bener sayang deh. Kamu udah buat segalanya menjadi indah. Oya, ucapan natalnya mana?”
“Hehe. Iya. Merry Christmas too, honey.”, aku sudah mulai bisa tersenyum.
Hadiah ulang tahun yang indah serta ucapan natal terindah. Ya, keduanya begitu sempurna dalam 77menit ini. Tak akan pernah kulupakan. Aku janji.
“…”
(Selesai)
“…”
Hening. Sudah berapa lama aku terus mengikuti bayangan yang samar itu. Rasa penasaranku terus meluap-luap. Wah, pukul 22.43 kira-kira. Mungkin gak akan ada cowok jahat berkeliaran atau lebih tepatnya “belum”, dan daerah ini memang jarang dilewati orang. Yah,mungkin karena pemikiranku yang terlalu positif ini (padahal gak ada yang gak mungkin) yang membuatku berani menghampiri bayangan itu.
“…”
“Deg-deg, deg-deg.”, jantungku mulai berpacu kembali.
Mungkin sudah ada sekitar 15menit aku mengikuti bayangan itu. Tapi entah mengapa seolah-olah hanya memutar-mutar saja daritadi. Maklum, rumahku perumahan yang bisa dikatakan elit. Sehingga aku juga yakin keamanan disini terjamin. Lagian di depan sudah ada satpam yang selalu siaga 24jam. Kutemukan lagi alasan kenapa aku bisa berani.
Setelah sekitar 30menit aku mengikuti, aku sedikit lelah. Entah karena jalanan yang menanjak atau aku kurang makan atau perasaanku yang berdebar-debar ini? Yang jelas aku tak tau pasti apa yang membuatku lelah, padahal tidak ada lari sedikitpun.
“Dug-dug, dug-dug”, jantungku mulai membuat rhythm yang temponya sedikit terlalu cepat untuk ukuran detak jantung manusia.
Aku sudah lelah. Tapi seolah mengetahui aku kelelahan, bayangan itu seketika berhenti juga. Dan entah melakukan apa. Lalu bayangan itu lari sekuat tenaga. Seperti dikejar anjing, setan ataukah dikejar waktu?
Aku sudah tidak kuat mengikutinya, akhirnya aku menyerah dan duduk di tengah jalanan. Aku mengelap keringatku.
“Syuu……. Duar, duar, duar”
Aku hampir jantungan dengan apa yang kulihat dan kudengar barusan. Ya, itu adalah sebuah kembang api. Aku terkejut dan berdiri. Betapa indahnya pemandangan yang sekarang sedang kulihat.
“Deg!”, jantungku seakan berhenti ketika ada seseorang yang memelukku sembari aku melihat kembang api yang terus menyala.
“Ini aku.”, seorang pria dengan suara bassnya yang lembut. Siapa lagi kalau bukan Sandy. Aku terharu.
“Met ulang tahun ya, Ren.”
“…”, aku nggak mampu berkata-kata lagi. Aku hanya bisa diam membiarkan keromantisan ini berlanjut. Dan kuharap Sandy mengerti dan tidak menanyakan hal bodoh seperti ‘kok diem aja?’. Oh, jangan biarkan keromantisan ini hilang Tuhan dengan pertanyaan bodoh itu.
“Badan kamu dingin, Ren. Maaf ya aku buat kamu ngikutin aku mpe capek gini. apalagi udara di luar dingin banget. Maaf.”
“Kok kamu disini, San?”, tanyaku sambil tetap memejamkan mata dalam pelukan Sandy. Aku tak memperdulikan apa yang Sandy ucapkan karena pikiranku pun langsung berpikir ‘katanya sibuk? Kok disini?’. Haha. Mungkin aku perempuan yang lugu. Padahal harusnya pertanyaan ini tidak perlu aku tanyakan. Merusak keromantisan saja.
“Maaf, Ren. Sebenarnya aku banyak memikirkan untuk hari ini”
Aku mengerti apa yang Sandy maksudkan dan aku lega karena Sandy tidak langsung to the point dalam menjawab pertanyaan anehku tadi.
“1bulan hanya untuk menyiapkan ini?”, tanyaku untuk memastikan.
“Yah, mungkin kamu pasti tau kenapa belakangan ini aku berubah jadi jarang punya waktu sama kamu. Sebenernya aku akhir-akhir ini juga cerita ma Lina soal ini. Yah, aku takutnya selama aku prepare buat ini kamu jadi bosen ma aku dan ninggalin aku. Maaf ya, Ren?”
Sandy melepaskan pelukannya. Dan sekarang mata kami saling bertemu.
“Sebenernya 1bulan ini aku terus memikirkan buat kasi sesuatu untuk ulang tahun kamu yang gak akan pernah kamu lupain. Dan kuharap ini adalah ulang tahun terindah di hidupmu.”, ujarnya lembut. Dan tangannya membelai manja pipiku
“1bulan kamu kaya menghilang itu cuma buat ini?”, aku sedikit kesal. Masa menyiapkan ini perlu waktu yang begitu lama hingga tak ada waktu sedikitpun buatku?
Sandy mengerti yang kumaksudkan dan matanya mengisyaratkan bila ingin sedikit menggodaku.
“Kalau iya gimana?”
“…”
(Bersambung)
*Krik-krik-krik-krik-krik-krik……………………*. Para jangkrik sedang ber-orkestra ria. Aku hanya bisa mendengarnya dalam kesunyian yang kemudian disusul oleh kesunyian dalam hatiku. “Hah,”, desisku, “lagi-lagi sendirian malem minggu gini. Pas hari ulang tahunku lagi. Huh!”, aku mulai kesal dengan kenyataan yang ada di depanku sekarang. Bagimana bisa seorang pria yang menjadi orang spesial dalam hidupku bisa berbuat secuek ini di hari paling penting bagi pacarnya? Apakah aku yang terlalu egois? Tapi setidaknya ucapkanlah di depan mataku, agar aku dapat melihat kesungguhanmu, San.
Aku ingin sekali melampiaskan kekesalanku. Yah, mungkin ini adalah sebuah penyakit yang datang bila sedang merindukan seseorang. Mungkin bisa disebut sebagai “penyakit rindu”. Apakah rindu bisa membawa penyakit? “Haha.”, aku tertawa kecil. Bagaimanapun perasaanku saat ini sungguh tak menentu, terkadang karena begitu merindukan Sandy, air mataku bisa membasahi pipiku tanpa aku sadari. Ya, aku menangis. Hanya sendiri, di tengah jalan yang benar-benar sepi dan sunyi tak ada seorang pun yang berlalu-lalang. Entah apa yang aku rasakan sekarang. Semua bercampur jadi satu.
***
“Siapa itu? Rasanya kok gak asing ya.”, aku berjalan mendekati sebuah bayangan lelaki.
“Iya, itu pasti Sandy. “, pikirku saat sudah semakin dekat dengan bayangan seseorang yang mungkin sedaritadi memperhatikanku.
Entah apa itu. Mungkin aku merasa lelaki itu adalah Sandy, tapi Sandy sedang ada urusan. Bagaimana bisa Sandy berada di tempat ini sekarang, di jalan yang sepi ini. Perasaanku sedikit takut. Bagaimana kalau lelaki itu orang jahat? Pembunuh, pemerkosa, pencuri, atau penculik? Pikiranku sekejap melayang mendapati kemungkinan-kemungkinan lain bila lelaki itu bukan Sandy beserta kemungkinan terburuk bila lelaki itu adalah orang jahat. Tapi perasaan penasaranku semakin menjadi-jadi. Entah dapat darimana keberanian yang begitu besar ini. Tapi sebersit hatiku merasakan bila lelaki itu adalah Sandy. Benarkah bayangan lelaki itu adalah Sandy? Ataukah seperti pikiran burukku? Belum sempat aku sampai untuk memastikan bayangan itu, perasaanku mulai merasakan ketakutan kembali. Tapi dari sudut hatiku yang paling dalam entah sedikit ada perasaan bahagia yang tersembunyi. Entah apa perasaan itu. Yang jelas itu perasaan damai, bahagia, dan seolah ada firasat-firasat yang melukiskan tawa.
“…”
(Bersambung)
Bukan waktunya untuk santai. Nanti malam aku dan Sandy udah janjian mau pergi. Yah, hari ini kan hari ulang tahunku. Hari yang spesial buat aku. Tapi kenapa ya dari pagi aku gak bisa menghubungi Sandy. Cuma sekali aja tadi pagi Sandy sms ngucapin met pagi. Hmm, biasanya sih. Kaya udah rutin tiap pagi Sandy sms gini. Mungkin baru bangun tangannya langsung otomatis ngetik trus langsung kirim ke aku. Ckck. Tapi aku senang pertama kali Sandy buka mata dan orang pertama yang Sandy ingat adalah aku. Wah, so sweet.
TIK-TIK-TIK. Udah pukul 14.30. Janjinya sih jam 6 Sandy menjemputku. Kepalaku sedikit bingung memikirkan banyak hal. Yah, sudah lama banget gak jalan berdua ma Sandy. Maklum, sedikit nervous kaya orang baru pacaran.
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku yang gak jelas tentang “nanti mau ngapain aja ya ma Sandy?, Sandy buat kejutan apa ya?, dst, dst.” karena bunyi dari sebuah benda yang gak asing lagi bagi seluruh manusia di muka bumi ini.
*Drrt, drrt, drrt*. Ya, handphoneku bergetar diiringi lagu game Ragnarok “Theme of Prontera”.
” Seiren, maafin aku ya..Aku hari ini ada keperluan, jadi gak bisa pergi hari ini..Maaf ya..”
“Bug!”, aku melempar handphoneku ke ranjang setelah membaca sms dari Sandy. Lagi dan lagi. Untuk kesekian kalinya Sandy membatalkan janjinya. Aku ingin marah, tapi sesaat kemudian handphoneku bergetar lagi.
“Oya, Ren..Met ulang tahun ya, sayang..Aku sayang kamu..”
Kupikir Sandy lupa. Entah kenapa, aku jadi gak bisa marah karena sms yang sederhana kata-katanya, tapi penuh makna. Seolah seluruh perasaan Sandy terlukis dalam 3 kalimat dengan 10 kata ini. Apa yang aku rasakan? Kenapa seolah aku mengerti apa yang Sandy rasakan saat ini? Entah apa perasaan aneh ini. Bagaimana pun, ini sms yang spesial buatku dan mungkin juga bagi Sandy. Terima kasih, San.
“Iya, makasih, San. Tapi janji ya, minggu depan kita makan buat rayain ultahku?”
Yah, harapanku Sandy akan berkata “iya” dengan senyuman di layar handphone nya, tapi handphoneku tak lagi bergetar.
“…”
(Bersambung)
“Hei, Ren! Kok kamu bengong sih?”, Lina menepuk pundakku. Sesaat kemudian aku tersadar dari segala lamunanku.
“Ren?!”,tanyanya lagi.
“Eh, apa Lin? Maaf aku gak denger.”
“Kamu kenapa sih, Ren? Kok bengong gitu? Sampe-sampe kamu gak sadar aku di kamarmu.”, Lina tetap sabar untuk mengulang pertanyaannya untuk yang kedua kali.
Seperti ditampar tangan tak terlihat. Aku melupakan sahabatku sendiri yang sekarang sedang berada disebelahku, di atas ranjang yang sama, yang beberapa menit yang lalu sempat bersenda gurau sampe perut ketendang-tendang. Maafkan aku, Lin.
“Aku gak apa-apa kok, Lin.”
Lalu Lina meletakkan laptopnya dengan 1tab. Yah, apalagi kalau bukan web yang sedang terkenal-terkenalnya “facebook”. Lina mencoba menatap mataku. Bukan untuk formalitas saat berbicara kepada seseorang, tapi Lina menatap mataku untuk mencari suatu kepastian, suatu kejujuran, atau mungkin suatu kebohongan tentang apa yang sedang aku bicarakan. Dan selamat, sahabatku Lina! Anda berhasil dengan gemilang menemukan titik kebohongan di mataku.
“Kamu gak mau cerita?”, Lina memastikan kalau-kalau dia salah menerka tentang gelagat tubuhku saat ini.
“Heh? Cerita apa, Lin”, aku kembali memasang tampang se-innocent mungkin.
“Hmm. Ya kalau kamu mang gak mau cerita gak apa-apa kok. Mungkin kamu belum bisa cerita. Tapi aku disini selalu, Ren buat nemenin kamu.”
Hatiku tersentuh dengan kata-katanya. Akupun gak bisa menahan lagi. Yah, kamu hebat, Lin. Bisa-bisanya membuatku bercerita dengan cara yang sangat halus.
“Lin, sebenernya belakangan ini aku merasa aneh pada Sandy.”
“Kenapa, Ren? Perasaan kamu udah mendingin ke Sandy?”, Lina sedikit bingung. Mencoba mencerna kata-kataku.
“Bukan itu, Lin! Maksudku bukan tentang perasaanku, tapi tentang sikapnya Sandy yang belakangan ini berubah. Sandy seolah gak peduli lagi ma aku, Lin.”, ujarku.
“Hmm? Kenapa kamu mikir gitu, Ren?”
“Ya kita sekarang jarang banget pergi bareng. Ya memang dari dulu hanya 1minggu 1kali sih, tapi sudah hampir sebulan ini aku gak ketemu ma Sandy,”, ujarku, “Setiap aku tanya ke dia, selalu alasannya sibuk dan 1001 alasan yang lain. Seolah-olah Sandy menyembunyikan sesuatu dariku. Jangan-jangan dia selingkuh.”, pikiranku sudah terbang mencari kemungkinan yang terburuk tentang keanehan Sandy.
“Yah, mungkin Sandy memang sedang sibuk, Ren.”, ujarnya, “Jangan berpikir yang aneh-aneh, Ren. Menurutku Sandy lelaki yang baik. Kalau Sandy memang menyembunyikan sesuatu, tentu itu memang hal yang sangat penting baginya”, Rina mencoba menenangkanku. “Jadi tenang saja ya, Ren”, ujarnya lagi.
“Tapi, Sandy kan bisa mencoba memberiku pengertian. Setidaknya biar aku gak terus cemas akan hal ini.”, aku sudah mulai menahan air mataku.
“Ren.”, Lina memelukku, “Tenang saja ya. Aku yakin kok Sandy hanya perlu waktu yang tepat untuk akhirnya menceritakan semuanya ke kamu.”
“Yah, mungkin kamu benar, Lin. Mungkin aku terlalu berpikir berlebihan. Mungkin aku harus lebih mempercayai Sandy. Kalaupun Sandy menyembunyikan sesuatu, tentu dia akan menceritakan padaku nanti, entah kapan. Makasih ya, Lin.”
“Makan yuk! Laper nih.”, ajak Lina dengan tangannya menarik lenganku.
(Bersambung)
(masa lalu)
TIK-TIK-TIK…………………..
Pukul 00.00.00 am. 1detik setelah ini haripun sudah berganti. TING-TONG. Pukul 00.00.01 am. Usai sudah hari ini. Tapi mata ini tetap masih memandang sekeliling dengan seksama. Yah hanya sekedar memberikan mata istirahat sejenak setelah ber jam-jam memandang radiasi komputer online. Hmm, apakah mataku sudah waktunya menyerah? Ternyata belum.
TIK-TIK-TIK………………….
(sedang mencari hal yang ingin dikerjakan)
Hmm, agaknnya para jangkrik masih asik ber-orkestra ria dengan bangganya.
Pukul 01.07 am.
(masih mencari hal yang ingin dikerjakan)
TIK-TIK-TIK…………………
Pukul 01.17 am. Akupun membuka sebuah novel yang belum tuntas kubaca. Cerita yang menarik. Sanggup mengisi waktu seorang pengangguran yang tak memiliki juntrungan yang jelas.
(selesai membaca buku)
TIK-TIK-TIK………………..
Agaknya suasana sudah lebih sunyi di luar sana.
(mencari sesuatu untuk dikerjakan kembali)
KLIK-KLIK-KLIK…………
Kursorku bergerak tanpa tujuan. Wah, ini adalah segala bentuk dari seorang pengangguran tingkat ‘S’. Atau mungkin tingkat ‘SS’. Agaknya sudah sulit melukiskan kebosanan yang tak terhingga. Anggap saja di kalkulator. Cari hasil dari 1/0. Dan hasilnya adalah “math error”. Hmm, agaknya kebosananku sudah tidak bisa terditeksi.
TIK-TIK-TIK…………..
Pukul 06.37 am. Akhirnya aku menyambut kasur kecilku, tempat dimana mimpi-mimpi terlahir. Agaknya sepasang mata ini sudah tak bisa berkompromi lagi dengan keinginannya untuk melemaskan otot-ototnya. Hmm, setelah aku paksa tanpa warming-up. Sebagai manusia aku pun mengabulkannya.
(Flashback)
TIK-TIK-TIK………..
Pukul 04.00 am. Kuputuskan menulis postingan ini dengan beberapa inspirasi tentang seorang pengangguran tingkat tinggi.
Hanya sendiri di ruang tertutup yang kecil. Ada ranjang bersprei coklat, ada sebuah buku bercover merah, ada pena, ada handphone yang menggemakan lagu dari Michael Buble “Put Your Head On My Shoulder”. Dan ada cinta.
292 kata. Yah, ini hanya sebuah postingan gak jelas dari makhluk yang gak jelas pula dengan tujuan yang gak jelas, dan waktu yang tidak ada kejelasannya.
Salam dari saya.
Adios.
ditulis dua jam tiga puluh tujuh menit menuju pukul 06.37 am, Oktober ketiga.
worDesign777



