“…”

Hening. Sudah berapa lama aku terus mengikuti bayangan yang samar itu. Rasa penasaranku terus meluap-luap. Wah, pukul 22.43 kira-kira. Mungkin gak akan ada cowok jahat berkeliaran atau lebih tepatnya “belum”, dan daerah ini memang jarang dilewati orang. Yah,mungkin karena pemikiranku yang terlalu positif ini (padahal gak ada yang gak mungkin) yang membuatku berani menghampiri bayangan itu.

“…”

“Deg-deg, deg-deg.”, jantungku mulai berpacu kembali.

Mungkin sudah ada sekitar 15menit aku mengikuti bayangan itu. Tapi entah mengapa seolah-olah hanya memutar-mutar saja daritadi. Maklum, rumahku perumahan yang bisa dikatakan elit. Sehingga aku juga yakin keamanan disini terjamin. Lagian di depan sudah ada satpam yang selalu siaga 24jam. Kutemukan lagi alasan kenapa aku bisa berani.

Setelah sekitar 30menit aku mengikuti, aku sedikit lelah. Entah karena jalanan yang menanjak atau aku kurang makan atau perasaanku yang berdebar-debar ini? Yang jelas aku tak tau pasti apa yang membuatku lelah, padahal tidak ada lari sedikitpun.

“Dug-dug, dug-dug”, jantungku mulai membuat rhythm yang temponya sedikit terlalu cepat untuk ukuran detak jantung manusia.

Aku sudah lelah. Tapi seolah mengetahui aku kelelahan, bayangan itu seketika berhenti juga. Dan entah melakukan apa. Lalu bayangan itu lari sekuat tenaga. Seperti dikejar anjing, setan ataukah dikejar waktu?

Aku sudah tidak kuat mengikutinya, akhirnya aku menyerah dan duduk di tengah jalanan. Aku mengelap keringatku.

“Syuu……. Duar, duar, duar”

Aku hampir jantungan dengan apa yang kulihat dan kudengar barusan. Ya, itu adalah sebuah kembang api. Aku terkejut dan berdiri. Betapa indahnya pemandangan yang sekarang sedang kulihat.

“Deg!”, jantungku seakan berhenti ketika ada seseorang yang memelukku sembari aku melihat kembang api yang terus menyala.

“Ini aku.”, seorang pria dengan suara bassnya yang lembut. Siapa lagi kalau bukan Sandy. Aku terharu.

“Met ulang tahun ya, Ren.”

“…”, aku nggak mampu berkata-kata lagi. Aku hanya bisa diam membiarkan keromantisan ini berlanjut. Dan kuharap Sandy mengerti dan tidak menanyakan hal bodoh seperti ‘kok diem aja?’. Oh, jangan biarkan keromantisan ini hilang Tuhan dengan pertanyaan bodoh itu.

“Badan kamu dingin, Ren. Maaf ya aku buat kamu ngikutin aku mpe capek gini. apalagi udara di luar dingin banget. Maaf.”

“Kok kamu disini, San?”, tanyaku sambil tetap memejamkan mata dalam pelukan Sandy. Aku tak memperdulikan apa yang Sandy ucapkan karena pikiranku pun langsung berpikir ‘katanya sibuk? Kok disini?’. Haha. Mungkin aku perempuan yang lugu. Padahal harusnya pertanyaan ini tidak perlu aku tanyakan. Merusak keromantisan saja.

“Maaf, Ren. Sebenarnya aku banyak memikirkan untuk hari ini”

Aku mengerti apa yang Sandy maksudkan dan aku lega karena Sandy tidak langsung to the point dalam menjawab pertanyaan anehku tadi.

“1bulan hanya untuk menyiapkan ini?”, tanyaku untuk memastikan.

“Yah, mungkin kamu pasti tau kenapa belakangan ini aku berubah jadi jarang punya waktu sama kamu. Sebenernya aku akhir-akhir ini juga cerita ma Lina soal ini. Yah, aku takutnya selama aku prepare buat ini kamu jadi bosen ma aku dan ninggalin aku. Maaf ya, Ren?”

Sandy melepaskan pelukannya. Dan sekarang mata kami saling bertemu.

“Sebenernya 1bulan ini aku terus memikirkan buat kasi sesuatu untuk ulang tahun kamu yang gak akan pernah kamu lupain. Dan kuharap ini adalah ulang tahun terindah di hidupmu.”, ujarnya lembut. Dan tangannya membelai manja pipiku

“1bulan kamu kaya menghilang itu cuma buat ini?”, aku sedikit kesal. Masa menyiapkan ini perlu waktu yang begitu lama hingga tak ada waktu sedikitpun buatku?

Sandy mengerti yang kumaksudkan dan matanya mengisyaratkan bila ingin sedikit menggodaku.

“Kalau iya gimana?”

“…”

(Bersambung)